*

Sunday, December 28, 2008

Kembali Bermula

Benarkah tiba di 1430 H karena 1414 H baru saja ditulis kemarin rasanya.

Benarkah 16 tahun berlalu sudah, ingat setiap lembar buku itu berjejer dua angka 14.

Benarkah kini adalah kini, beribu hari berlalu setelah masa itu padahal impian yang terajut masih belumlah terurai panjang.

Dimana jiwa berada

Dimanakah gegas yang kucipta

Saatnya kembali semula, dalam sujud panjang harapan dan do'a

Hari ini jalan berawal dititik 1430 H

Mari....

*Lexington, 1 Muharram 1430 H

Sunday, December 21, 2008

Aku Mencintaimu Tanpa Tapi

Akuilah bahwa kau mencintainya!

Iya sih, tapi dia suka memaksakan kehendak, dia suka mengatur, dia ingin aku begini dan begitu, aku lelah, cape entah...

Ah jangan kotori cintamu dengan uraian kalimat setelah tapi itu. Karena diapun mencintaimu tanpa tapi. Tak dibiarkannya tangis jatuh dari kelopak matamu, rasa sakitmu derita panjangnya, tertawamu bahagia yang tak berkesudahan untuknya. Harapnya adalah jiwamu untuk melangkah dan meniti. Inginnya adalah semangatmu untuk berjalan dan berlari. Coba pikir dan rasakan dengan hati!


Ah....betapa aku akan mencintainya, dengan segala kediaannya. Aku mencintainya karena dia aku ada, karena begini dan begitunya dia adalah hirupan lega nafasku kini. Aku mencintainya karena dia adalah jiwa yang mengalir deras dalam aliran hidupku, aku mencintainya karena dia adalah raga yang mengkokohkan derap langkahku. Ya, aku mencintainya.


Katakanlah padanya, segera!

"Ibu, aku mencintaimu tanpa tapi"


Untukmu, untukku dan untuk mereka, Selamat Hari Ibu!

Friday, December 19, 2008

"Bayi"

Kemarin sambil menggendong si bungsu yang sedang tidak sehat, saya coba nonton Film Juno, mungkin sudah pada nonton ya, ini kan Film tahun lalu. Film ini berkisah tentang seorang anak remaja putri (Juno, 16thn) yang hamil. Awalnya Juno berniat menggugurkan kandungannya, tapi kemudian dia refused niatnya tersebut dan akhirnya mempertahankan bayinya dengan niat setelah bayinya lahir akan diberikan kepada orang tua yang sangat menginginkan anak tapi belum diberi kesempatan memilikinya, kata lain cari pasangan yang mau mengadopsi.

Anyway, saya tidak akan menceritakan film itu, saya hanya teringat tentang kebebasan sex anak remaja di sini (amrik maksudnya).

Saya pernah tinggal selama 2,5 thn di Massachusetts, negara bagian "paling sekuler" kalau kata orang-orang. Yang membolehkan pernikahan gay dan melegalkan aborsi. Saya tinggal di salah satu kota kecil, Amherst. Kota yang hampir setengah bagian penduduknya adalah mahasiswa.

Di Amherst ini ada sebuah SMA, salah seorang counseling disekolah ini kebutulan teman saya. Beliau seringkali bercerita tentang siswanya, anak-anak yang memiliki "segala" kebebasan termasuk sex. Bahkan ada yang disebut "predator", sang kakak (laki-laki) yang mengadakan pesta dan menjadikan adik perempuannya sebagai "suguhan" terhadap teman-temannya, mengerikan. Mungkin mereka juga tidak khawatir akan kehamilan toh akhirnya bisa diaborsi, naudzubillah hi mindzalik. Siswa juga mendapatkan pendidikan sex lengkap dari a-z, proses dan akibat.

Lalu teman saya berkisah, bahwa sekolah menyediakan sebuah boneka bayi yang mirip dengan bayi manusia, yang akan menangis ketika lapar, pipis dsb. Anak-anak SMA tersebut akan mendapat giliran untuk membawa bayi ini kemana-mana, ke sekolah, di rumah diurus dll. Tujuannya biar siswa tahu dan mengerti betapa besar tanggung jawab mengurus bayi itu, dan tentu saja cape dan lelah sedangkan bayi butuh perhatian kapan saja dan dimana saja. Diharapkan siswa itu berfikir dulu sebelum melakukan sex bebas, karena akan mengakibatkan kehamilan dan bayi itu harus diurus seperti si boneka tadi (lo tapi kan kalaupun hamil masih boleh diaborsi, naudzubillah hi mindzalik). Hasilnya bagaimana saya tidak tahu lagi, belum ngobrol lagi dengan teman tersebut.

Sekarang saya tinggal di Kentucky, state yang "tenang". Disini pernikahan gay tidak boleh, aborsi juga tidak legal, Gereja banyak, layaknya Masjid di Indonesia, kegiatan keagamaan marak. Tapi sex bebas mah tetep, anak remajanya juga.

Disini saya tidak punya teman counseling tapi punya teman yang memiliki anak SMA. Sewaktu kelas 2 SMA, dia dan teman-temannya diberi tugas membuat "bayi". Bayi ini terbuat dari 5lbs tepung terigu (bentuknya kotak), yang bibuatkannya kaki, tangan, dipakaikan baju dsb. Si "bayi" ini juga dibawa kemana-mana, tapi kan tidak "hidup" seperti bayi di SMA Amherst sana, jadi bisa hanya dibiarkan saja di tasnya. Tujuannya mungkin yang sama.

Mereka kreatif menciptakan ide untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak remaja salah satu akibat hubungan sex. Tapi hasilnya seperti apa, entahlah. Padahal menurut saya solusinya itu agama, agama dan agama. Islam tepatnya.

Dan ternyata juga kehidupan sex bebas para remaja ini bukan hanya terjadi di Amerika, di Indonesia juga sudah "biasa" sepertinya, tersembunyi ataupun terungkap, duh.

Ini ada link bagus yang cukup berkaitan dengan cerita saya diatas. Tulisan ibu Elly Risman di Republika dan Tanya Jawab konsultasi parenting dengan teman-teman di Belanda

http://liasaja.multiply.com/links/item/3

http://liasaja.multiply.com/links/item/4

Thursday, December 18, 2008

Parenting 101 (Second Session) by John Rosemond

Yang ini lebih sering mengangguk-angguknya daripada mengernyitkan dahi :D. So??? please write your opinion, lets share!

This is Part 2 and the conclusion of Parenting 101, an overview of the fundamentals of effective parenting. Last week's class dealt with such basics as having a more active relationship with your spouse than you have with your children, saying "No" more than "Yes," and the much overlooked fact that the discipline of a child is accomplished through the conveyance of proper leadership, not reward-ship or punishment-ship. Having built a strong foundation, we will now move into a set of specifics that are equally essential to raising a child who will be well-equipped to deal successfully with the realities of independence. After all, the purpose of raising a child is to get him or her out of your life and into a life of his/her own.

1.) Put yourself at the center of your child's attention, not the other way around. It is a simple matter to discipline a child who is paying attention to you and nigh-unto impossible to discipline a child who is not. In that regard, always keep in mind that the more attention you pay a child, the less attention the child will pay to you.

2.) Put your child into a meaningful role in your family, one that is defined in terms of responsibilities known as chores (remember them?). By the time your child is 4 years old, he should be contributing significant time and effort on a daily basis to the maintenance of the household. Your child's chores should not be assigned haphazardly, but should be established as a routine. In addition to picking up after himself and keeping his own living space clean and orderly, he should be working in "common areas" of the home, doing such things as dusting and vacuuming. You do tell people that your child is gifted, do you not? Without chores, a child is a mere consumer, on a perpetual entitlement program, and entitlements do not strengthen people or culture. Grow a strong child!

3.) Keep television and other electronic media out of your child's life until your child has learned to read well and is self-entertaining. The research is clear that electronic media shortens attention span, interferes with the development of certain critical thinking skills, and develops a dependency that leads to frequent complaints of boredom. Remember that an average of just two hours of "screen time" a day means your child is absorbing electronic stimulation to the tune of 730 hours a year. That's the equivalent of eighteen 40-hour work weeks! Think of the creativity that's being lost! Grow a child with a strong brain!

4.) From day one, keep clutter out of your child's life by keeping toys and other "stuff" at a minimum. Paradoxically, children who entertain themselves well (low-maintenance children) tend to have few toys. These children are also more grateful for and take better care of what they have. Grow an imaginative, creative child!

5.) Emphasize manners, not skills. Sixty years ago, most children came to overcrowded first grades not knowing their ABCs, yet at the end of the year were reading at a higher level than today's kids, most of whom are already reading in kindergarten. That happened because parents of sixty years ago taught proper behavior, not skills; therefore, teachers taught skills, not proper behavior. Grow a polite child!

6.) Love your child enough to do the first ten. Grow a happy child!

Family psychologist John Rosemond answers parents' questions on his website at www.rosemond.com.

Copyright 2008, John K. Rosemond

*About the Author: Rosemond has written nine best-selling parenting books and is one of America's busiest and most popular speakers, known for his sound advice, humor and easy, relaxed, engaging style. In the past few years, John has appeared on numerous national television programs including 20/20, Good Morning America, The View, Bill Maher's Politically Incorrect, Public Eye, The Today Show, CNN, and CBS Later Today.