*

Tuesday, February 22, 2011

Sekian Lama

Suatu hari saya berkunjung ke Family Center, selain ada ruangan untuk bermain anak-anak, disana juga ada ruangan untuk para orang tua melakukan kegiatan, baik kegiatan pribadi seperti knitting, membaca, menulis, maupun kegiatan bersama seperti parents support group, young parents support group dsb. Saat itu, saya memilih untuk duduk di ruangan para orang tua, terlihat dua orang ibu sedang akrab ngobrol, tiba-tiba datang seorang ibu muda, Ia minta ijin duduk didekat mereka, lalu memperkenalkan diri. Kemudian ketiganya terlibat obrolan. Saya yang sedang membaca tidak jauh dr mereka sayup-sayup mendengar isi obrolannya, Ibu muda yang baru datang itu bercerita tentang permasalahan yang dia hadapi, kedua ibu itu sesekali terdengar berkomentar "oh no", "really?", 'Oh god" atau "wow you are brave" dan sesekali "Im so sorry". Tidak sekalipun terdengar kedua ibu itu bertanya-tanya atau berkomentar panjang lebar, apalagi mengungkapkan kalimat yang berisi saran atau pendapat dsb. Dan akhirnya obrolan mereka diakhiri dengan kalimat dari si Ibu muda "Thank you for listening, I feel better now".

Situasi yang manis, seseorang yang ingin mengungkapkan perasaannya tanpa khawatir akan dituduh, dihakimi atau digurui, seseorang yang hanya ingin didengarkan. Dan Ia mendapatkannya dari kedua ibu tadi.

Thursday, July 08, 2010

Waktu

Waktu tak hendak menunggu...

Sunday, December 28, 2008

Kembali Bermula

Benarkah tiba di 1430 H karena 1414 H baru saja ditulis kemarin rasanya.

Benarkah 16 tahun berlalu sudah, ingat setiap lembar buku itu berjejer dua angka 14.

Benarkah kini adalah kini, beribu hari berlalu setelah masa itu padahal impian yang terajut masih belumlah terurai panjang.

Dimana jiwa berada

Dimanakah gegas yang kucipta

Saatnya kembali semula, dalam sujud panjang harapan dan do'a

Hari ini jalan berawal dititik 1430 H

Mari....

*Lexington, 1 Muharram 1430 H

Sunday, December 21, 2008

Aku Mencintaimu Tanpa Tapi

Akuilah bahwa kau mencintainya!

Iya sih, tapi dia suka memaksakan kehendak, dia suka mengatur, dia ingin aku begini dan begitu, aku lelah, cape entah...

Ah jangan kotori cintamu dengan uraian kalimat setelah tapi itu. Karena diapun mencintaimu tanpa tapi. Tak dibiarkannya tangis jatuh dari kelopak matamu, rasa sakitmu derita panjangnya, tertawamu bahagia yang tak berkesudahan untuknya. Harapnya adalah jiwamu untuk melangkah dan meniti. Inginnya adalah semangatmu untuk berjalan dan berlari. Coba pikir dan rasakan dengan hati!


Ah....betapa aku akan mencintainya, dengan segala kediaannya. Aku mencintainya karena dia aku ada, karena begini dan begitunya dia adalah hirupan lega nafasku kini. Aku mencintainya karena dia adalah jiwa yang mengalir deras dalam aliran hidupku, aku mencintainya karena dia adalah raga yang mengkokohkan derap langkahku. Ya, aku mencintainya.


Katakanlah padanya, segera!

"Ibu, aku mencintaimu tanpa tapi"


Untukmu, untukku dan untuk mereka, Selamat Hari Ibu!